Social Icons

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, August 28, 2013

Aku dan Mertuaku

Bagi kebanyakan orang setelah menikah tentunya merupakan hal sangat membahagiakan bukan....!!
hadeuuh...maunya sich gitu. 
Mana ada setelah menikah tidak bahagia, pastinya ya gak...hehehehe

Namun yang terjadi 
memang kenyataannya berbeda dengan yang aku alami. 
begini ceritanya....(halahhhhh!!)

Aku berasal dari Jawa barat, (itu dulu..sekarang jadi Banten...hehehe). Aku berdarah sunda, sementara abby berasal dari Solo. Kami dari keluarga biasa (itu setelah aku silaturahiim ke rumah mertua lho...! hehehe). Aku mengenal Abby cukup lama, hampir 7 th, dan pernikahan itu baru terjadi beberapa bulan ini tepatnya tanggal 20 Juni 2013 aku dan Abby menikah.Kalau dilihat dari perkawinan ini tentunya baru seumur jagung....(maksudnya jagung yang baru di tanam...hehehehe). Memang terlalu panjang masa bersama sebelum menikahnya, karena memang banyak rintangan dan pertimbangan yang sangat tidak menguntungkan aku sebagai wanita, namun akhirnya semua Allah tentukan bahwa jodohku yang kedua ini adalah Abby.

Abby adalah seorang laki-laki yang boleh dikatakan terlambat menikah. Aku tidak terlalu banyak mengetahui cerita dibalik semua kegagalan abby dalam hubungan dengan wanita lain sebelum aku. Namun aku mempunyai sedikit cerita kenapa hal itu bisa terjadi pada Abby saat itu.

----*****----

Aku mengenal dekat Abby setelah pernikahanku yang pertama kandas di tengah jalan. Aku di karuniai tiga orang anak yang masih dibilang remaja dan seorang balita. Sebenarnya Abby dan Aku sudah sejak lama saling mengenal, hanya baru pada tahun 2005 aku mengenal Abby lebih dekat karena kami satu perusahaan.
Aku berpikir Abby sudah menikah, karena memang Abby lebih dewasa dari aku. Usia aku 38 waktu itu sedang Abby 41 tahun, tiga tahun lebih tua dari aku. 

----****----

Pernikahanku sedang dalam ambang perpisahan ketika itu, anakku yang balita di bawa oleh mantan suamiku ke kampung halaman (mantan suamiku berasal dari Palembang). Aku dibuatnya setengah gila ketika pulang ke rumah anakku (kebetulan laki-laki satu2nya) tidak ada. Salah seorang teman baikku membawa aku kepada seorang spiritual (yang kebetulan dapat membantu aku mengembalikan anakku dengan memanggilnya secara ghoib), namun jangan salah duga cara-cara yang dilakukannya pun dengan cara-cara islami bukan dengan cara-cara yang tidak di syariatkan agama. Entah, bagaimana caranya aku memohon bantuan agar anakku segera pulang. Sebab itulah Abby membantu mendampingi aku menemui guru spiritualnya teman baik aku saat itu. Itulah awal Abby bersimpati membantu aku menyelesaikan masalah yang aku hadapi. (eh akhirnya jatuh cinta ....tapi nanti dulu...sabar yo...hehehehe). Dan akhirnya, Alhamdulillah....setelah hampir sepuluh hari anakku kembali pada kami. Keadaan anakku sangat menyentuh hatiku, karena tubuhnya yang kurus dan ceking, membuat aku marah besar pada mantan suamiku.

----****----

Setelah setahun kejadian ini, aku mencoba melupakan semua masalahku dengan lapang dada. Abby semakin dekat dengan anakku yang balita, berkesan Abby memberikan kasih sayang penuh pada anakku, sampai anakku memanggilnya "Bapak" pada Abby (waktu itu aku dan Abby belum menjalin hubungan apapun, kecuali sahabat dan atasanku, oh ya kala itu Abby adalah atasanku di kantor). Waktu berlalu, tanpa aku sadari Abby semakin dekat dengan keluargaku yang lain, kedua anak gadisku juga ibu bapak serta kakak dan adik-adikku. Karena Abby sering meluangkan waktu untuk silaturahiim kepada keluarga kami saat Abby  libur bekerja. Aku mulai bertanya tentang kejelasan hubungan ini, karena aku seorang janda, aku takut keluargaku menilai aku wanita tidak baik juga lingkungan sekitarku yang mayoritas adalah keluarga besarku. Abby menjawab cukup jelas, bahwa Abby hanya ingin melindungi aku dan keluargaku layaknya seorang kakak....Subhanallah...Aku berpikir...Allah telah mengirimkan orang baik seperti Abby dalam kehidupanku yang hampir hancur ini. Aku tidak berpikir terlalu jauh untuk menilai Abby, aku juga tidak berpikir Abby akan menggantikan "Bapak" bagi anak-anakku kelak.

----***----

Suatu hari, Abby ingin berbicara serius soal seorang gadis yang di kenalkan tantenya (dulu Abby pernah tinggal dan sekolah dengan tantenya, sebenarnya suami tantenya ini adalah adik dari ibunya Abby. karena menurut ibunya, Abby semasa remajanya nakal dan sering mendapatkan surat teguran dari sekolah karena bolos, hampir menjelang naik kelas dua sma Abby mau di keluarkan dari sekolah, dengan memohon kebijakan sekolah maka Abby tidak jadi dikeluarkan dari sekolah (dropaout) namun dipindahkan dari sekolah ke Tangerang sampai Abby bekerja).
Gadis ini bertetangga dengan mbak tantenya di bilangan Cileduk, keluarga mbak tantenya kenal baik dengan keluarga gadis itu, sebut aja namanya Sukma. Walau sedikit bingung dengan pernyataan Abby, Aku mendukung seandainya Abby akan menikahi Sukma waktu itu. Bahkan akupun sempat dikenalkan oleh Abby, Aku tidak memperdulikan hub itu, namun Abby ingin aku ikut menjalani hubungan mereka dengan tetap dekat dengan Abby. Subhanallah....apakah Abby tidak mengerti perasaan seorang wanita yo....(maklum gak pernah kenal wanita ...cuma aku yang dekat dengan dia....asyiik....hehehehe). Abby selalu melaporkan jika Abby ingin bertemu Sukma kapanpun atau sekedar menjeputnya dari pekerjaan menuju Cileduk (Sukma bekerja di Serang, kalau hari Jumat malam pulang ke Cileduk karena Sabtu dan Minggu libur). Pembaca....sebenarnya perjalanan aku dekat dengan Abby telah menumbuhkan perasaan cinta namun Abby tidak pernah tahu hal itu. Sehingga Abby pun tidak tahu jika aku sering menghindar membicarakan Sukma saat waktu santai, aku sering tanpa sadar marah dan meninggalkan Abby sendirian.
Aku mengerti mungkin Abby bukan jodoh aku. Hingga suatu hari, Abby kerumahku untuk membicarakan Sukma dan aku menolak, namun Abby memohon agar aku mendengarkan semua penjelasannya. Dengan terpaksa aku mau mendengarkan Abby bicara. 
Ya Allah...Abby ingin menikahi Sukma namun juga ingin menikahi aku....!!!!
Tentu pembaca tahu jawaban aku sebagai seorang wanita, bukan? Aku menolak rencana gila Abby.
Karena jawabanku akhirnya Abby membatalkan pernikahannya dengan Sukma dan kini Sukma telah menikah dengan orang lain.

----****---- 

Bulan berlalu, tahun berganti. Aku menyerahkan semuanya pada Abby untuk menikah dengan siapapun. Asalkan tidak menjadikan aku sebagai istri keduanya. Hubungan kami tidak lagi harmonis karena rencana gila Abby waktu itu, aku mengerti Abby ingin mempunyai istri yang di restui oleh keluarganya yang terbilang layak sebagai istrinya bukan seperti aku yang seorang janda (Keluarga Abby terutama tante nya tidak merestui hubungan aku dengan Abby, sebab aku janda dan beranak tiga. Hingga kedua orang tuanya pun mengaminkan pendapat tente nya itu). Abby tetap menjalani hubungannya denganku walau tanpa restu keluarganya, sementara hatiku terlanjur sakit oleh pernyataan tante nya dengan anggapan bahwa aku tidak layak jadi istri Abby. Aku berpikir untuk melupakan sakit hati itu, aku jalani semuanya, aku yakin jika Abby adalah jodoh ku tak akan lari kemana. Hubunganku berjalan tanpa arah yang pasti, aku hanya meyakinkan diri bahwa aku menjalani semuanya dengan baik bersama Abby. Aku sangat mengerti perasaan Abby ketika semua keluarganya tidak merestui hubungan kami.

----***----

Pertemuanku dengan Ayah dan Keluarga Abby adalah yang pertama dan diakhiri oleh sifat ego tantenya yang mempengaruhi Ayah serta Ibu juga adik-adik Abby. Tante Endang, telah memberikan pilihan jika aku dan Abby menikah nanti (aku tahu semua ini ketika itu Ibu dan Adik keduanya Abby datang ke Tangerang silaturahiim pada keluarga tantenya, aku disuruh Abby menemui mereka di Agent Bus Rosalia. Aku mencium tangan Ibu lalu ibu menariknya dengan kasar, seolah tidak sudi aku menyalaminya...Astaghfirullah...) aku sempat kaget dan banyak perubahan sikap Ibu, berbeda sekali ketika di Solo. Aku hanya diam sampai mereka naik menuju bus dan meninggalkan aku. Sejak itulah, aku yakin bahwa Tante Endang telah membuat perubahan sikap ibu juga adiknya Soim. 

----****----

Mulailah hubunganku dengan Abby banyak kendala, aku masih ingat waktu itu menjelang hari raya Idul Fitri. Abby pulang bersama keluarga tante Endang. Aku perang dalam pesan sms, tante Endang berperang seolah dia yang mengatur hidup Abby bahkan sampai soal jodoh. Tante Endang telah membuat aku membuka diri untuk mengatakan tentang kebenaran. Aku dikatakan telah mengejar Abby dan agar meningglkan Abby, aku tidak pantas menjadi istrinya dan lain-lain. Astaghfirullah....apakah aku harus diam ketika semua itu dilontarkan padaku? tentu tidak, aku membela diri dengan cara yang baik. Namun semakin sengit saja tante Endang menuduh aku. (pokoke seru tenan dech....). Namun Abi tidak pernah menghiraukan semua kejadian itu, ketika bertemu aku sekembalinya dari Solo, sikap Abby tidak berubah.

----****----
Selang beberapa tahun, Ibu pergi umroh bersama keluarga tante Endang. Aku membaca pesan dari Makkah melaui ponsel Abby yang isinya.
"Abby, aku sudah doakan kamu di Makkam Rasulullah, agar kamu mendapatkan jodoh yang baik dan mendapatkan istri yang benar-benar kami restui. Pokoke, aku doakan kamu semua agar kamu dapat hidup lebih baik. Tapi sorry la yau....aku gak mendoakan Pelangi"
Astaghfirullah....aku sempat terperanjat membacanya. Yang membuat aku kaget bukan karena tidak di doakan oleh mereka di Makkah namun yang membuat aku tidak habis pikir, di Tanah Suci Allah mereka masih berpikir membenci aku....
Apa yang akan anda pikirkan jika membaca ini?
Begitu tidak ada maafkah bagiku untuk keluarga ini, sehingga di Tanah Harram Tanah yang di Sucikan mereka tetap menaruh hati benci pada umatNya.....
Aku hanya menangis, bukan berarti menyesal tidak mereka doakan, namun ya Allah....Engkau saja memaafkan aku hambanya yang penuh dosa ini, mengapa mereka tetap menuai kebencian di tanah suciMu itu. ya Allah....maafkan mereka.....

----****----

Sekitar akhir Januari , ketika Abby memberitahukan bahwa ayahnya sakit, Abby minta antar aku untuk membeli tiket pulang ke Solo. Namun, belumlah Abby sampai ke Solo Ayahnya sudah meninggal dunia. Abby mengirimkan pesan lewat sms waktu Subuh. Aku merasakan bagaimana perasaan Abby ketika itu, aku hanya mampu menenangkan perasaan Abby agar tabah menghadapi kenyataan meninggalnya Ayah tercinta. Aku merenungi semuanya, aku merasakan kehilangan yang sama. Karena semenjak aku dekat dan menjalani hubungan dengan Abby, baru sekali aku bertemu Ayah. Aku membayangkan ketika Ayah menceritakan silsilah keluarga besarnya (Silsilah keluarga itu di letakan di dinding rumahnya), aku masih ingat cuma keluarga ayah saja yang belum mempunyai tambahan keturunan. Abby adalah anak pertama Ayah dan belum menikah sampai Ayah meninggal waktu itu. Bahkan adik-adiknya pun tak ingin melangkahi kakak untuk mendahului menikah (saling menghormati, agar yang menikah lebih dulu adalah yang lebih tua) sementara Abby dalam keadaan dilema,sementara Abby orangnya tertutup.
Aku sangat terenyuh pernyataan Ayah ketika itu, sehingga aku jatuh sayang pada keluarga ini. Kesederhanaanya, wibawanya serta cara beliau memperlakukan aku katika itu membuat kesan baik walau aku dan Ayah baru bertemu pertama kali (hanya waktu itu aku tidak mengerti, sejauh mana hubunganku dengan Abby). Aku sempat membuatkan segelas susu untuk Ayah sebelum Ayah berangkat bekerja. Keluarga Abby sudah mengetahui bahwa aku adalah seorang janda dengan tiga orang putra putri. Aku berusaha tampil apa adanya, karena memang kenyataan aku bukan seorang gadis lagi.
Ayah mengatakan , "semua terserah Abby aja. Siapapun jodoh Abby itu yang terbaik" sambil tersenyum padaku ketika itu. Dua malam bersama keluarga Abby aku seperti putri mereka, makan, duduk bersama. Tak terbayangkan jika suatu hari aku hanya sekali mengenal Ayah, sampai Ayah meninggalkan aku, aku tidak pernah bertemu kembali. Rasa tidak suka Tante Endang tersirat salah satu pesan sms, setelah kepergian Ayah Abby pada hari ketujuh.

Pesan untuk Abby dari tante Endang setelah kepergian Ayah tujuh hari :
''Lewat tujuh hari sudah kita melepas dan ditinggalkan oleh sosok/pigur prasojo yang sama-sama kita cintai. Kita semua seperti dipaksa mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas harus kita terima karena ketetapan Allah SWT. Tapi aku merenung dan bertanya-tanya betulkah kamu merasa sedih karena kehilangan? atau sedih karena rasa bersalah. Hanya kamu yang tahu. Namun rasanya, aku perlu mengingatkanmu bahwa masih ada seorang ibu yang akhirnya juga harus menjadi korban kecewa karena keegoanmu. Kamu sanggup mengorbankan siapapun hanya demi cinta yang kamu anggap sudah benar. Kamu ternyata lebih mencintai orang lain dari pada orang tuamu dan orang-orang yang menyayangimu.Kamu hujamkan rasa sakit dan kecewa pada orang tua dan yang lain sampai dibawa ke liang kubur. Satu demi satu mereka meninggalkanmu. Pasti ada rasa puas di hatimu, bukan? Karena tidak ada yang mengganjal egomu. Aku hanya bisa bilang SELAMAT karena kamu berhasil dan tangismu adalah BAHAGIAMU. Kamu tinggal tunggu tiga orang lagi, Ibumu, LekMu dan Aku. Renungkan!!"

Aku sampai berpikir, malaikat pencabut nyawa kah aku bagi keluarga Abby? Astaghfirullahaladziim......

----****-----

Bulan Juni lalu, Aku telah menikah dengan Abby. Tanpa Restu Ibu mertuaku, Abby mengucapkan Ijab di depan Ayahku serta keluargaku yang lain tanpa di hadiri oleh seorangpun keluarga Abby. Menjelang bulan Ramadhan, aku sudah resmi menjadi istri Abby. Dalam relung hatiku yang paling dalam, aku merindukan restu Ibu mertuaku. Aku menyarankan Abby agar pulang sebelum Ramadhan tiba sambil menjiarahi makan Ayah, dan ceritakanlah apa yang sudah menjadi keputusan Abby menikah denganku. Satu minggu Abby di Solo, ada beberapa hari aku menanyakan tentang kabar Ibu. Karena jawaban Abby membuat aku tenang, bahwa Ibu baik-baik saja. Aku berpikir cemas bahwa Ibu benar-benar tidak pernah memaafkan aku. Namun aku membuang jauh-jauh pikiran itu. 

Tiba Abby kembali ke Tangerang, aku menemani Abby menceritakan semuanya tentang keluarga di Solo. Abby menatap aku dalam-dalam, dan mengatakan bahwa

 "Ibu kecewa ketika aku mengatakan bahwa kini aku tidak sendiri lagi, ada kamu Pelangi

Air muka Abby datar dan tanpa reaksi apapun. Tanpa terasa airmataku mengalir, aku sedih sekali menghadapi kenyataan yang berbeda dari yang ku harapkan. Namun perkawinan ini tetap harus berjalan dengan baik, walau kenyataan pahit aku harus telan.

"Ibu tidak belum bisa menerima kamu sebagai menantunya" lanjut Abby
Aku diam, aku tidak mampu mengeluarkan kata-kata. dalam hatiku, aku hanya pasrah pada Allah. Semoga Allah membukakan pintu hati ibu mertuaku suatu hari nanti.

----****----

Bulan Ramadhan tahun ini, aku di uji kesabaran oleh Allah. Dalam setiap sujudku, aku selalu berdoa agar ibu mertuaku memaafkan dan menerima aku sebagai menantunya. Sikap Abby memang tidak pernah berubah, namun setiap kali Abby mengatakan tentang ibu, aku menangis.
Satu bulan aku menjalankan ibadah tanpa melewatkan doa-doa untuk Ibu, aku sangat berharap Allah mengabulkan semua doa-doaku....Insya Allah...doa-doaku terkabulkan...Aamiin.

Saat aku merenungi semua yang terjadi, terkadang aku ingin menyampaikan perasaanku pada Abby agar menikah lagi dengan wanita lain yang menjadi pilihan ibunya dan menceraikan aku, saat seperti itu ada rasa sakit menghujam hati  dan jantungku. Jerit tertahan, bahwa aku berharap ini adalah perkawinan terakhir setelah aku mengalami kegagalan dahulu. Aku tidak ingin rumah tanggaku kali ini menjadi berantakan karena rasa bersalah Abby pada orang tuanya.

Ya Allah...berikanlah aku kesabaran dalam ujian ini....

Ternyata dalam kebahagiaanku, ada seorang Ibu yang terluka hatinya....
Astaghfirullahaladziim....
apa yang harus aku perbuat....
aku tidak tahu, bagaimana kelangsungan rumah tanggaku selanjutnya.....

Semoga Allah membukakan pintu maaf untukku serta Abby, dan membuka pintu hati Ibu mertuaku agar dapat menerima aku sebagai menantunya....Aamiin.

Semoga tulisan ku ini bermanfaat untuk semua pembaca, jika ada saran dan nasehat untuk aku...tolong berikan jalan apa yang harus aku jalani selanjutnya...

Jazzakumullah Khoiran Katsiran....
Barakallahu fiikum...








Friday, May 10, 2013

R E U N I

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuhu....

Selamat Pagi Sahabat Blogger...

Udah lama gak posting, kangen juga ....salam jumpa kembali.

Kehidupan semakin dewasa usia semakin bertambah pandangan ke depan, banyak perkembangan yang terjadi yang begitu nyata didepan mata. Alhamdulillah....persahabatan yang tertunda sekian tahun kembali bersemi, setelah 20 tahun waktu memisahkan segala kesibukan serta aktivitas. Kesibukan memang tak pernah bisa dipungkiri dalam menata kehidupan lebih baik, aku banyak melihat perubahan-perubahan pada semua sahabatku dimana-mana. Semua karena ketekunan mereka mencoba untuk terus menjalani waktu, walau persahabatan yang terjalin sempat pudar karena waktu.

Aku sangat bangga, dan banyak inspirasi serta motivasi dari keberhasilan mereka. Walau sebagian sahabatku tetap tak memiliki peluang lebih baik seperti kebanyakan teman yang lainnya. Cukuplah bagiku sebagai anugrah dalam pertemuan ini, 20 th gitu lho.....^_^

Aku memang sangat mengharapkan pertemuan ini, yach....pertemuan masa kecil dulu.
Aku sekolah dasar di kota kecil selatan Tangerang, dimana terlahir anak-anak yang kini menjadi kebanggan bagi kotaku. Ada yang menjadi dokter, pengusaha, anggota dewan, kepala sekolah, atau karyawan sebuah perusahaan yang sukses.

Aku kangen sekali pada mereka....^_^
Semoga Reuni akbar ini sesuai dengan harapan....Insya Allah...Aamiin

Saturday, May 4, 2013

Rintihan Imam Bukhari


Renungan


Imam Bukhari



Di kala malam yang sunyi sepi

sedang bani insan tenggelam dalam tidur dan mimpi

musafir yang malang ini tersentak bangun

pergi membasuh diri
untuk datang menghadap-MU Tuhan



Lemah lutut berdiri di hadapanMU

sedu sedan tangisku keharuan

hamba yang lemah serta hina ini
Engkau terima juga mendekat
bersimpuh di bawah Duli kebesaran


Tuhan,
hamba tidak tahu pasti
bagaimana penerimaanMU
di kala mendengar pengaduan hamba
yang penuh dosa dan noda ini

Dalam wahyu yang Engkau nuzulkan
Engkau berjanji untuk sedia menerima pengaduan
dan sudi memberi keampunan

Dan Muhammad RasulMU yang mulia ini
pernah mengatakan:
"Ampunan Tuhan lebih besar dari kesalahan insan"
Hamba percaya pada tutur kepastian itu
Sebab itu hamba datang wahai Tuhan
bukan tidak redha dengan ujian 
cuma hendak mengadu padaMu
tempat hamba kembali nanti
memohon sakinah, maghfirah dan muthmainnah.

Thursday, May 2, 2013

~ Susahnya Menjaga Hati ~


~ Susahnya Menjaga Hati ~


Susahnya menjaga hati

sedangkan ia adalah pandangan Allah

ia merupakan wadah rebutan di antara malaikat dan syaitan

Masing-masing ingin mengisi, Malaikat dengan hidayah
syaitan dengan kekufuran
Bila tiada hidayah, ilmupun tidak menjamin
sekalipun ia perlu
Susahnya menjaga hati,
bila dipuji ia berbunga terasa luar biasa
bila di caci aduh sakitnya, pencaci dibenci
bahkan berdendam sampai mati
Bila berilmu dan kaya, sombong mengisi dada
Jika miskin atau kurang ilmu
rendah diri pula dengan manusia
Adakalanya kecewa, puncaknya putus asa
Takdir yang menimpa susah untuk redha
Ujian yang datang sabar tiada, jiwa menderita
Kelebihan orang lain, hati tersiksa
kesusahan orang lain, hati menghina
Bahkan terhibur pula
Menegur orang suka, di tegur hati luka
Aduuh...susahnya menjaga hati
Patutnya ia dikatakan raja hati
BUKANKAH SIFAT SOMBONG PAKAIAN RAJA?

Dikutip dari Buku Mengenal diri melalui hati 
Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi

~ Renungkanlah Selalu Perjalanan Hati ~


~ Renungkanlah Selalu Perjalanan Hati ~


Renungkanlah selalu

Karena ia merupakan sumber kebaikan dan kejahatan

Wadah kekufuran dan keimanan
Rebutan di antara malaikat dan syaitan
Hati perasaannya halus
Sentuhannya tidak terasa
Tapi sangat memberi kesan di dalam kehidupan kita
Siapa yang arif perjalanan hatinya
Paham kebaikan dan kejahatan
Bersungguh bermujahadah membuang kejahatan
Diganti segera dengan kebaikan
Orang itu akan selamat
dari tipu daya syaitan dan dunia
Ramai orang tidak paham
perjalanan hatinya sekalipun ulama
Terima saja yang baik dan yang buruknya
kemudian merasakan baik semuanya
tiada terasa lagi membuat dosa
Disinilah perlu pimpinan
Guru yang mengenal hati manusia

dikutip dari Buku Mengenal diri melalui hati 
Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi

Wednesday, May 1, 2013

Mewujudkan Harapan Karena-NYA

Pada umumnya manusia hidup ingin lebih baik dan sesuai harapan, kala melangkahkan kaki menjauh terpikirkan apa yang harus kita lakukan. Sebuah rutinitas memang melelahkan, namun itulah yang aku lakukan bertahun-tahun. Tak jarang aku berbuat sesuatu untuk menghilangkan kejenuhan aktivitas sehari-hari dengan menulis, merenung dan belajar lebih baik lagi. Menikmati dan mencintai rutinitas itu kunci menghilangkan kejenuhan. 


Tak terasa semester enam, tiga tahun lalu aku terpikirkan untuk kembali belajar. Mempelajari ilmu tak pernah terbatas dengan usia, itu prinsipku. Pada saat inilah waktu yang tepat aku memikirkan untuk belajar secara formal, bukan hanya selembar kertas sebagai tambahan gelar dibelakang namaku, namun ini sebagai bukti bahwa aku ingin maju...yach...aku mengambil kesempatan ini sebagai waktu yang tepat. Setelah sekian tahun aku bergelut dengan rumah, anak, dan kantor, akhirnya aku harus lepas dari yang namanya rutinitas.

Semua berjalan sesuai dengan waktu, rencana, dan sesuatu yang aku mungkin banggakan yaitu bisa lulus dengan mendapatkan sesuatu yang dulu tidak mungkin, aku Insya Allah bisa buktikan sekarang, tidak ada kata terlambat, aku tetap semangat, walau terseok-seok oleh waktu yang terbagi-bagi bukan suatu halangan. Lelah, bukan lagi kata yang harus terucapkan sekarang ini, aku harus optimis semua dapat selesai tepat pada waktunya. Insya Allah....Aamiin.

Masih ingat dalam pikiranku, ketika anak sulungku masih sekolah dasar bertanya padaku, 
"Mah, aku harus menuliskan bio data serta nama orang tua, aku mau tanya mama teerakhir sekolah apa?" dengan polosnya anakku bertanya.
"Kak, mama lulus SMA aja. Tulis aja disitu" kataku sambil memperhatikan dia menulis bio datanya.
lalu...
"Orang tua teman-teman kakak, kok sekolahnya sarjana sich mah?" sambil menulis dia bicara.
"Oh...itu berarti orang tua teman kakak dulunya kuliah di perguruan tinggi" kataku
"Kenapa mama tidak sekolah seperti orang tua teman kakak?"lanjutnya
"Dulu orang tua mama itu bukan orang kaya, sayang....hingga mama tidak kuliah."lanjutku
Setelah selesai, aku menyuruhnya untuk belajar dan mempersiapkan buku-buku sekolah untuk esok hari.

Aku termenung memikirkan pertanyaan itu, namun kesempatan untuk lebih dari yang anak-anak harapkan belum dapat terwujud. Aku tersenyum, mungkin suatu kebanggan bagi anak-anak melihat orang tuanya maju dan berrpendidikan tinggi. Inilah motivasi buat aku, hingga aku berpikir harus lebih baik dari kemarin untuk menjelang hari esok berikutnya. Setelah enam tahun berlalu, aku mendaftarkan diri dalam sebuah sekolah tinggi. Subhanallah....aku ingin anak-anak bangga padaku karena mereka tidak lagi menuliskan biodata orang tuanya lulusan SMA saja. Aku tersenyum....semoga aku mampu mewujudkan harapan mereka kelak...Aamiin.

Sisulung kini telah duduk di perguruan tinggi semester satu pada universitas negeri di Indonesia. Alhamdulillah...semua berjalan sesuai dengan harapan.

Janji Allah SWT terhadap insan yang senantiasa menjaga harapan telah dinyatakan. Allah SWT berfirman: 

Bismillahirrahmaanirrahiim...

“Berharaplah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan harapanmu sekalian.” 
(QS. Almukmin: 60). 

"Allah SWT akan mengabulkan harapan bagi siapa saja yang berharap hanya kepada-Nya"
 (QS. Al Baqarah: 186).

Jazzakumullah Khoir.




Tuesday, April 30, 2013

Mencintai Karena Allah

Kebahagiaan dan kesulitan itu pasti berganti-ganti menjadi bagian dari kehidupan, tak selamanya manusia hidup terus dalam kebahagiaan dan tak selamanya manusia itu hidup terus dalam kesulitan. Dalam setiap kebahagiaan pasti manusia diberi ujian begitu juga sebaliknya, itulah yang namanya kehidupan. Allah telah memberikan dalam setiap kesulitan pasti diberi kemudahan, dan jangan lupa dalam setiap kebahagiaan kita hendaknya saling berbagi, agar orang lain dapat merasakan kebahagiaan yang kita alami.


Bahagia....

Aku tidak akan pernah melupakan, begitu banyak kebahagiaan yang aku rasakan dalam kehidupan ini. Aku telah di percayakan untuk mengurus dan mendidik anak-anakku, walau amanah ini sangat berat bagiku, karena aku harus mendidik mereka untuk tetap berada di dalam koridor tatanan dan aturan yang telah di gariskan dalam Al-Quran dan RasulNya Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam. Aku telah di berikan sebuah lingkungan yang baik, pekerjaan yang baik juga sahabat serta handai taulan yang baik, itu merupakan sebuah kebahagiaan yang tiada tara. 

Aku sering kali berpikir, aku tidak mungkin selalu bahagia. Allah pasti memberikan aku ujian dalam setiap kebahagiaanku, agar aku senantiasa mengingat-Nya. Bukan hanya kebetulan dalam keluargaku enam bersaudara, aku di berikan pekerjaan dan rejeki lebih dari yang lainnya, pasti semua itu mengandung hikmah. Karena Allah ingin aku membantu saudaraku yang tidak mampu, dan semua itu aku rasakan. Jika aku tamak dan serakah, maka tamatlah riwayatku. Alhamdulillah, semua itu aku selalu menyadari, mengapa aku di berikan rejeki lebih.

Dalam semua yang aku miliki, walau tidak kaya tapi aku merasakan kaya, aku kaya akan mengetahui kebesaran Allah yang memberikan rejeki. Dalam setiap rejeki ada bagian orang lain, itu yang selalu di ajarkan guru ngajiku sejak kecil. Hendaknya berbagi kebahagiaan untuk orang lain lebih mulia, begitu pesannya ketika itu.

Ilmu dalam kehidupan ini semuanya milik Allah, siapa yang mencapai ilmu untuk Akherat maka dunia dalam genggamannya. Allah maha luas rejekinya, bahwa sebaik baiknya pemberi rejeki hanyalah Allah Azza Wajalla. Jangan pernah lupakan itu, pesannya dahulu.
Yang lebih penting, lakukanlah semua karena Allah.

Saling mengunjungi saudara adalah ibadah, mempererat tali silaturahim sesama keluarga, kerabat juga sahabat adalah sebuah kewajiban. Ustadz Arifin Ilham mengisahkan dalam ceramahnya dalam sebuah riwayat Imam Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam  menceritakan: “Suatu hari, seseorang melakukan perjalanan untuk mengunjungi saudaranya yang tinggal di suatu negeri.Maka Allah mengutus malaikat untuk mencegatnya di suatu tempat di tengah-tengah perjalanan. Ketika orang tersebut sampai, malaikat itu bertanya, “Hendak ke manakah engkau, wahai hamba Allah?”

Aku hendak mengunjungi saudaraku yang tinggal di negeri ini,” jawab orang itu. Malaikat bertanya lagi; “Apakah kamu punya kepentingan duniawi yang diharapkan darinya?” Orang itu menjawab; “Tidak, kecuali sebab aku mencintainya karena Allah.”

Malaikat itu lantas mengabarkan; “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, yang dikirim kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah telah mencintaimu seperti engkau mencintai saudaramu itu.”

Subhanallah, jika kita menyimak riwayat diatas, betapa Allah akan menjadikan kekasihNya bagi hamba yang menjulurkan cinta karena Allah.

Titik Yang Tak Bertemu

Semua menjadi begitu sulit pada akhirnya, itulah yang aku rasakan sekarang. Aku seperti sudah kehilangan semua kata-kata, akhirnya aku bosan untuk berbicara lagi. Semua seperti tak berarti, aku tidak ingin dikatakan wanita yang tak mempunyai harga diri, karena terlalu banyak mengatakan kata-kata itu lagi.
Yach...semua seperti hanya menunggu waktu, kapan harus berakhir.



Apakah yang salah dalam diriku saat ini, semua tak pernah terpikirkan aku harus hidup dan menghidupi anak-anak sendiri. Seandainya, aku berharap agar waktu aku kembalikan ke masa silam pun tak mungkin kehidupanku akan lebih baik seperti sekarang ini. Aku tak hendak menyesal mengenang kembali masa lalu, karena apapun semua itu hanyalah tinggal kenangan belaka. Aku tak hendak mengingatkan lagi, rasa bahagia dan sedih semua telah berlalu. Namun kini, tak juga hendak berkeluh kesah karena tidak sesuai dengan harapan setelah semua itu kulakukan. Tidak...Tidak...semua aku harus menjalaninya dengan tegar, karena hidup ini adalah pilihanku yang terakhir.

Aku hempaskan badanku dalam kasur empuk yang menanti, aku ingin tidur setelah seharian ini lelah. Aku lipat tanganku di atas kepala, aku kembali merenungi. 
"Ach....semua tidak akan menjadi kenyataan"gumamku menghela nafas.
perlahan aku menerawang kembali kemasa lalu.

"Aku ingin menikah denganmu, maukah kamu menjadi isteriku" teringiang semua kata-kata itu 20 tahun yang lalu. Seperti mimpi memang, setelah rasa sakit yang menghantam dadaku sepeninggal pacarku semasa SMA dulu. 
Aku terdiam seribu bahasa, karena aku belum terlampau jauh mengenal dia yang akhirnya akan menjadi suamiku kelak.
"Aku hanya menoleh tanpa senyum, karena aku tak mampu menjawab pertanyaan yang tak pernah aku duga sebelumnya" aku sedikit bersandar di sopa ketika itu.

Aku mulai pening mengingatnya kembali, aku memjamkan mata. Semua terbayang, hingga aku terbangun dan duduk di pinggir tempat tidur.

"Kenapa aku gelisah malam ini" gumamku.

Aku kembali merebahkan badanku yang kelelahan, aku ingin tidur ya Allah....jeritku dalam hati, namun mataku tak juga terpejam.

Bunyi dentingan jam dinding terdengar berdetak-detak dalam kesunyian kamarku, aku menolehnya. Jam menunjukan pukul 01.30 wib, aku mulai menguap, mataku mulai berair karena ngantuk, aku tidak mengerti mengapa airmata itu mengalir begitu saja. Tak lama aku sadari, bahwa aku telah menangis seperti hari-hari sebelumnya.

Bismillahi Allahuma Ahya ammut....aku pejamkan mata.


Monday, November 21, 2011

YA ALLAH, MENGAPA BUNDAKU SERING MENANGIS?

TAFFAKUR

YA ALLAH, MENGAPA BUNDAKU SERING MENANGIS?

Seorang anak kecil bertanya pada Tuhannya
Ya Allah, mengapa bundaku sering menangis ?
Allah menjawab,
Karena ibumu seorang wanita...
Aku menciptakan wanita sebagai mahluk yang istimewa
Aku kuatkan tubuhnya untuk menyangga dunia
Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman
Aku kuatkan rahimnya untuk melahirkan benih manusia
Dan aku tabahkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain menyerah

Aku beri dia rasa sensitif untuk mencintai putra-putrinya
Aku tanamkan rasa sayang yang akan meninabobokkan anaknya
dan berbagi cerita dengan putra-putrinya yang beranjak dewasa
Aku beri dia kekuatan memikul beban keluarga tanpa mengeluh
Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi meski disakiti
Aku beri dia kebijaksanaan untuk mengerti

Bundamu, makhluk yang sangat kuat
Jika kamu lihat bunda menangis,
Karena Aku beri dia air mata, yang bisa dia gunakan sewaktu-waktu
Untuk membasuh luka batinnya dan memberikan kekuatan baru.
 :-)
By Cah Mbetiks

Sunday, November 20, 2011

HEBATNYA SHALAT GENERASI SHALEH DAHULU

HEBATNYA SHALAT GENERASI SHALEH DAHULU

‘Umar pingsan ketika ia ditikam, dan berdasarkan al-muswar bin makhramah, (bahwa ia berkata) “tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali adzan, jika ia masih hidup”.

Mereka mengatakan kepadanya,
“Sholat telah usai, hai amirul mukminin!”
Maka ia bangun dan mengatakan,
“Sholatlah, demi Allah! sesungguhnya tidak ada bagian dalam islam bagi siapa saja yang meninggalkan sholat.”
(al-muswar berkata) “Dia menunaikan sholat sedangkan luka yang dideritanya mengucurkan darah.”
[Sifat as Safwah 2/131, As Siyar 5/220]

Setelah Ar-Rabi’ bin Khaytham lumpuh, ia masih tetap pergi ke mesjid dengan dibantu dua orang lelaki. Dikatakan kepadanya:
“Hai Abu Yazid! Kamu memiliki udzur untuk mendirikan sholat di rumahmu.”
Ia menjawab:
“Benar, tapi aku mendengar ajakan “hayya ‘alal falaah” (marilah kita menuju kemenangan), dan aku kira, bagi siapa yang mendengar hal ini, seharusnya menjawabnya walaupun dengan merangkak!”
[Hilyat al Awliya 2/113]

Adi bin Hatim (radhiallohu ‘anhu) mengatakan:
“Setiap kali datang waktu sholat, maka ia mendatangiku ketika aku bersemangat melakukannya dan aku siap untuk melakukannya (telah menyempurnakan wudhu).
[Az Zuhd by Ahmad, p. 249]

Abu Bakar bin Abdulloh Al-Muzani mengatakan,
“Siapa yang sepertimu, Hai Anak Adam, kapanpun kamu mengharapkan sesuatu, gunakanlah air untuk berwudhu, pergilah ke tempat shalat(mu) dan kemudian rasakanlah kehadiran Rabb-mu tanpa adanya penerjemah atau halangan antara dirimu dan diriNya.”
[Al Bidayah wa an Nihayah 9/256]

Abul Aliyah mengatakan,
“Aku akan bepergian beberapa hari untuk menemui seseorang, dan yang pertama kali akan kulihat darinya yaitu sholatnya. Jika ia mendirikan sholat dengan sempurna dan tepat waktu, maka aku akan bersamanya, dan mengambil ilmu darinya. Jika kutemukan ia tidak memperdulikan sholat, maka aku akan meninggalkannya dan mengatakan kepada diriku bahwa selain daripada itu (sholat), pastilah dia lebih tidak peduli lagi”

Salah seorang salaf mengatakan,
Ketika Ali bin Al-Husain menyempurnakan wudhunya, rona- wajahnya berubah. Maka keluarganya menannyakan kepadanya tentang hal ini, maka ia menjawab,
“Tahukah kamu Siapa yang kelak akan ku temui?”
Yazid bin Abdulloh ditanya, ”
Apakah sebaiknya kita menambahkan atap kepada mesjid kita ini?” maka ia menjawab, “murnikanlah hatimu maka mesjidmu akan mencukupkanmu”
[Hilyat al Awliya 2/312]

Adi bin Hatim (radhiallohu ‘anhu) mengatakan,
“Sejak aku menjadi seorang muslim, aku selalu memastikan bahwa aku telah berwudhu ketika adzan dikumandangkan”
[As Siyar 3/160]

Ubayd bin Ja’far mengatakan,
“Aku tidak pernah melihat pamanku, Bishr bin Masnur, melewatakan takbir pertama (takbiratul ihram)…”
[Sifat as Safwah 3/376]

Ibnu Sama’ah berkata,
“Selama empat puluh tahun, aku hanya sekali melewatkan takbir tahrimah (takbir pertama), yaitu ketika wafatnya ibuku”
[As Siyar 10/646]

Sufyan bin ‘Uyaynah berkata,
“Termasuk menghormati sholat yaitu datang sebelum iqomah dikumandangkan”
[Sifat as Safwah 2/235]

Maymun bin Mahran terlambat datang ke mesjid dan ketika orang-orang memberitahunya bahwa mereka telah menyempurnakan (menyelesaikan) sholat, maka ia mengatakan,
“Inna lilaahi wa inna ilayhi rååji’uun… (Kita semua adalah milik Allah, dan kepadaNya lah kita akan kembali)! Aku lebih memilih hadir untuk sholat berjama’ah ketimbang menjadi gubernur iraq!”
[Mukashafat al Qulub p 364]

Yunus bin ‘Abdulloh mengatakan,
“Apa yang terjadi padaku? Ketika aku kehilangan ayamku, aku merasa khawatir, tapi ketika aku melewatkan sholat berjama’ah, itu tidak menjadikanku bersedih hati”
[Hilyat al Awliya, 3/19]

Umar mengatakan, ketika ia berdiri diatas mimbar,
“Orang-orang mungkin memiliki rambut putih dalam islam (– disebabkan karena ia telah lama memeluk islam (muslim) sampai ia berumur lanjut–), belum pernah menyempurnakan satu pun ibadah kepada Allah Yang Maha Agung! diapun ditanya “kenapa begitu?” Ia mengatakan, “Ia tidak menyempurnakan sholatnya, karena sholat diperlukan adanya khusyu’, khidmat (sungguh-sungguh), serta menghadirkan hatinya kepada Allah”
[Al-Ihya 10/202]

Hammad bin Salamah mengatakan,
“Aku tidak pernah berdiri untuk sholat tanpa membayangkan bahwa jahannam ada dihadapanku”
[Tadhkirat al Huffadh 1/219]

Muadz bin Jabal menasehati anaknya,
“Hai anakku! Sholatlah seperti sholatnya orang yang akan pergi, dan bayangkanlah bahwa engkau tidak akan sholat lagi. Ketahuilah, bahwa seorang muslim itu mati diantara dua kebaikan, satu keika ia mengerjakan (kebaikan/ibadah)nya, dan satu lagi ketika ia sedang berniat mengerjakannya.”
[Sifatush Shafwah 1/496]

Bakar Al-Muzani berkata,
“Jika engkau ingin sholatmu bermanfaat bagimu, katakan kepada dirimu, “aku tidak akan memiliki kesempatan untuk melaksanakan sholat lagi (sholat berikutnya)”
[Jami` al `Ulum wal Hikam, p 466.]

Shubrumah mengatakan,
“Kami menemani Karz Al-Haritsi ketika safar. Kapansaja ia menentukan tenda dalam satu daerah, ia sering kali mengeceknya dengan seksama, dan ketika ia menemukan tanah yang ia suka, maka ia akan pergi kesana dan terus sholat disana, hingga telah datang waktu untuk meninggalkannya (tempat tersebut).”
[Sifat as Safwah 3/120]

Al-Qosim bin Muhammad mengatakan,
“Kapansaja aku berjalan pada waktu pagi, Aku selalu menemui ‘A-isyah radhiallohu ‘anha (bibinya), dan menyapanya. Suatu ketika, aku mendapatinya sedang melaksanakan sholat dhuha, membaca ayat ini berulang-kali, menangis dan memohon kepada Allah, “Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. (At-Tur 52:27)” Aku tetap berdiri, hingga aku merasa bosan, maka aku meninggalkannya, dan pergi kepasar untuk melakukan sesuatu, dan mengatakan kepada diriku, “ketika aku menyelesaikannya, maka aku akan kembali (ke kediaman ‘a-isyah radhiallohu ‘anha). Ketika aku menelesaikannya, aku masih mendapatinya berdiri didalam sholatnya, membaca ayat yang sama, menangis dan memohon kepada Allah”
[Al Ihya 4/436]

Maymun bin Hayyan mengatakan,
“Aku tidak pernah melihat Muslim bin Yasar menggerakkan kepalanya ketika ia sedang sholat, apakah sholat yang ringan maupun panjang. Pernah sekali, ada salah satu bagian mesjid yang runtuh, bunyi reruntuhan itu sampai-sampai menyebabkan orang-orang dipasar ketakutan, sedangkan ia, tidak takut, bahkan tidak menggerakkan kepalanya dan tetap dalam sholatnya”
[Az Zuhd by Imam Ahmad p 359]

Salah seorang salaf mengatakan,
“Aku menemani ‘Atho bin Robah selama delapanbelas tahun. Ketika ia tua renta, ia sering berdiri dalam sholatnya dan membaca sekitar DUA RATUS AYAT dari surat al-baqoroh sambil berdiri dengan teguh dan mantap, sampai-sampai tidak ada anggota tubuhnya terlihat bergerak”
[As Siyar 5/87, Sifat as Safwah 2/213]

Abu Bakar bin ‘Aiyash mengatakan,
“Jika engkau melihat Habib bin Abu Tsabit dalam sujudnya, maka kamu akan mengira ia telah wafat karena lamanya sujudnya.”
[As Siyar 5/291]

Ali bin Al-Fudhoil berkata,
“Aku melihat Ats-Tsauri dalam sujudnya ketika ia sholat, dan aku pun melaksanakan tawaf mengelilingi ka’bah tujuh kali sampai ia mengangkat kepalanya dari sujudnya”
[As Siyar 7/277]

Ketika Hatim Al-Asamm ditanyakan tentang sholatnya, ia mengatakan,

“Ketika telah dekat waktu untuk sholat, maka aku menyempurnakan wudhuku, dan pergi kemana aku akan melaksanakan sholatku (mesjid). Kemudian aku berdiri dan sholat, membayangkan bahwa ka’bah ada dihadapanku, surga ada disebelah kananku, neraka ada disebelah kiriku, dan malaikat maut ada dibelakangku. Aku membayangkan bahwa itulah sholat terakhir yang akan aku kerjakan, aku berdiri dengan penuh harap (terhadap Jannah-Nya dan pahala-Nya). dan takut (Neraka-Nya) dan mengumandangkan takbir disertai niat yang tulus dan ikhlas. Aku membacakan al-qur’an dengan pelan, aku ruku’ dengan merendahkan hati, kemudian sujud dengan khusyu’ dan kemudian duduk diatas kaki kiriku, dengan kaki kiriku terbaring ditanah dan meluruskan kaki kananku (iftirasy’) dan sholat dengan penuh keikhlasan. Kemudian, aku tidak tahu apakah sholaku telah Diterima-Nya.

Harapan hati

Harapan Hati


Langit malam berselimut taburan bintang gemintang. Semua mata terlelap dalam lelah yang indah dalam arungan hidup yang terus menggerus nadi-nadi manusia.

Sang pasangan pun bersama sang kekasih………..
rebah dalam pundak sang cinta berselimut rindu. 
Sementara di suatu tempat di atas bumi. 
Seorang manusia bernama Adam masih juga tidak terpejam. 
Ada gurat gelisah dalam jiwanya…………..
kerinduan yang menyesakkan.

Maka mulailah hati Adam mendamba………
mengharu biru kepada-Mu. 
Dengan hamparan sajadah yang seputih mega……..
Adam panjatkan doa-doanya. Mungkinkah aku tetap bersimpuh disini………..
berselasar cinta yang membuncah dada………….
taman cintaku terhanyut di keharibaan-Mu……………. 
karena hanya kepada-Mu selama ini aku adukan kerinduan hatiku………..

Bersama bebatuan dan gunung tinggi………..
bersama deburan ombak pantai yang menyapa karang. 
Bersama putaran galaksi dan semesta izinkan aku menyebut nama-Mu.

Aku berdoa kepada-Mu ya Illahi :
“Ya ……Alloh..
andai Engkau berkenan……………
limpahkan kepada kami,
cinta yang Kamu jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah Al-Qubra..
yang Kamu jadikan mata air kasih sayang Imam Ali dan Fatimah Az-Zahra..
yang Kamu jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci…

Ya, Rabbi……
andai semua itu tidak layak bagi kami….
maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridho-Mu…
jadikan kami saling mencintai di kala dekat…..
saling menjaga kehormatan di kala jauh…..
saling menghibur di kala duka……
saling mengingatkan di kala bahagia………
saling mendoakan dalam kebaikan dan ketakwaan………
saling menyempurnakan dalam peribadatan……

Ya Alloh……..
Allohumaaaa….
sempurnakan kebahagiaan kami..”

dan mata Adam basah…
ia ingin sekali menghapus kebenciannya pada bintang itu…
Adam malu bahwa bintangpun senantiasa berdzikir pada penciptanya…
apalagi semesta yang senantiasa setia dengan takdir peribadahannya….

Dan ia ingin menjadi seorang hamba yang lebih baik lagi…… 
untuk orang -orang yang selama ini menyanyanginya. 
Untuk seseorang yang selama ini di hatinya.

Cahaya harapan itu kini berpijar kembali………
untuk masa depan yang Adam yakin akan sama mesranya dengan cahaya matahari yang menghangatkan bumi.

Maka senyum Adam tujukan atas segala syukur yang tak terperi…..
harapan akan doanya terkabul….
dan kebahagiaan itu Adam yakin akan menyapanya…………
dalam cinta yang indah melebihi pelangi…….
serta dalam kerinduan yang membuncah…….


by Cah Mbetiks

Luaskan Hati Seluas Samudera

Luaskan Hati Seluas Samudera 

Masalah harus di hadapi.. dengan hati yang sabar.. maka luaskan hatimu seluas samudera..

Jadi, mari kita mengambil hikmah dari kisah berikut :

“Senggenggam Garam dan Telaga”

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. 
Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. 
Langkahnya gontai dan wajahnya kusam. 
Keadaan tubuhnya tak karuan. 
Ia seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan hatinya. Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.

Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. 
Begitu tamunya selesai bertutur, ia lalu mengambil segenggam garam dan memintanya untuk mengambil segelas air. 
Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak Tua itu.

“Pahit…., pahit sekali,” jawab anak muda itu sambil meludah ke samping.
Pak Tua tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat membasahi wajah anak muda itu.
“Sekarang, coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!” ujar Pak Tua kemudian.

Anak muda itu menuruti apa yang diminta Pak Tua. 
Ia segera meminum beberapa teguk air telaga. 
Begitu tamunya selesai mereguk air, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”
“Segar!” sahut anak muda itu.
“Apakah engkau bisa merasakan garam di dalam air itu ?” tanya Pak Tua lagi.
“Tidak,” jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
“Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu kembali menambahkan nasihatnya, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. “

Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya untuk meminta nasihat. :-)

by Cah Mbetiks

web stats
 

MY LINK

My Daily

Link Banner

Info Site

Flag Counter

Link Exchange SEO Reports for aktivitasme.blogspot.com Top Blogs - Blog Directory Top Sites Ping Lik - Free Url Submission Personal Blogs - Blog Rankings Free Guestbook
My Guestbook Environment Blogs
submit a blog

Followers

U-ON

Referrer